23 Juni 2010
My Life Story in Kampung Inggris Pare
Seandainya waktu itu aku tdk resign dr Bank Permata dan tetap bekerja di sana sampai dengan hari ini, pastinya cerita kehidupan ku akan sangat berbeda dengan apa yg aku alami sekarang. Aku tdk pernah menyangka bahwa keputusan ku resign dr posisi sebagai Admin Marketing Acquisition Bank Permata dan memutuskan untuk belajar Bahasa Inggris ke Pare, meninggalkan begitu banyak kenangan yg nantinya akan selalu aku kenang dan menjadi bagian dari catatan perjalanan hidup ku. Bagiku, apa yg aku alami di Pare adalah pengalaman sejati ke 2 setelah KKN di Ciwidey. Sebuah proses pembelajaran hidup.
Masih tergambar jelas, ketika pertama kali aku memutuskan untuk pergi ke Pare. Semula aku tdk diizinkan untuk berangkat ke Pare, karena tdk ada teman yg menemani selama aku disana. Hingga akhirnya aku memberanikan diri memohon izin langsung ke Papah dan bilang bahwa aku serius untuk melakukan hal ini dan berjanji untuk tdk mengecewakan. Dengan segala alasan yg aku sampaikan, akhirnya papah memberi izin.
Perjalanan panjang itu akhirnya di mulai, February 21st, 2010, tepat satu hari setelah ulang tahun ku, minggu sore itu aku berangkat ke Kediri berdua dengan papah, menumpang KA Gajayana jurusan Gambir-Malang, mencoba untuk mulai menapaki hari-hari baru di Pare. Perjalanan yg sangatlah panjang, menempuh 12 jam perjalanan hingga aku akhirnya sampai di Stasiun Kediri pukul 06.00 pagi. Menyusuri kota Kediri, daerah kekuasaan Gudang Garam dengan menumpang becak dan bis. Hingga akhirnya sampailah di Pare atau lebih tepatnya di Desa Tulungrejo, Kec.Pare, Kab.Kediri.
Tergambar dengan jelas suasana Desa Tulungrejo yg lebih dikenal oleh masyarakat luas dengan sebutan “Kampung Inggris”, dan inilah gambaran nyata, tempat kursusan berjejer di mana2. Udara pagi itu aku hirup dengan sangat dalam, hingga dalam hati aku mengatakan ‘sampai juga aku di tempat yg selama ini ingin aku datangi’. Jujur, inilah pertama kalinya aku menginjakkan kaki di Jawa Timur. Sebelumnya, aku hanya mampu menempuh perjalanan sampai Yogyakarta, saat itu adalah perjalanan terjauh di Pulau Jawa yg pernah aku tempuh, dan Pare adalah yg pertama kali aku perawani.
Mengenang kembali saat-saat kedatangan ku di Pare. Mencoba untuk menyesuaikan diri dengan keadaan. Mengendarai sepeda, menyusuri jalan Anyelir dan Dahlia seorang diri. Mencari informasi kursusan dari satu tempat ke tempat lain. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk kursus di Kresna, mengambil program English Comprehension 1 dan program TOEFL Structure di Logico.
Brata House
Tepat dua hari setelah kedatangan ku, datang penghuni baru kamar nomor 11 di Brata House, kamar yg aku tempati sejak pertama kali datang ke Pare. Aku berkenalan dengan dia, namanya Andina Faradita ‘Dita’, kami terlibat obrolan panjang dan tanpa di sengaja hingga masuk ke ranah pribadi kehidupannya. Aku ingat bagaimana terkejutnya Dita, ketika pertama kali datang dan mendapati mobil mantan cowoknya di parkir persis di samping Brata House. Kesan pertama yg aku dapati dari seorang Dita, wanita yg ayu dan sangat sopan, khas wanita Jawa pada umumnya. Aku berpikiran bahwa wanita-wanita Jawa adalah org yg sangat sopan, ramah, dan cantik tentunya. Perkenalan antara aku dan Dita ternyata menjadi awal dari kisah panjang persahabatan kami.
Dua minggu berjalan, hingga akhirnya kami menerima kembali dua org baru di kamar nomor 11. Dua org itu adalah Anis, dari Brebes dan Ema atau panggilan akrabnya ‘Emmon’, dia adalah temannya Dita di Universitas Negeri Malang (UNM), asli Kediri. Aku ingin mendeskripsikan tentang Anis dan Emmon.
Anis, ketika pertama kali kenal dia dan ngobrol bareng, dari obrolan kita tersebut, aku menebak sepertinya dia org Sunda, org Sunda kalo udah ngomong gak pernah bisa nipu, alias keliatan bgt dari logatnya. Pada awalnya aku tdk menyangka kalau dia org Brebes, karena yg aku tau, Brebes itu Jawa Tengah, tapi kenapa tiba-tiba bisa berubah jd org Sunda. Sampai akhirnya dia memberikan penjelasan kalau tempat tinggal dia ada di perbatasan antara Jawa Barat dan Jawa Tengah, jadilah seorang Anis dari Brebes tapi sehari-hari ngobrol pake Bahasa Sunda. Satu hal yg aku ucapkan dalam hati, akhirnya ketemu juga dengan saudara sekampung (maksudnya saudara satu Tanah Parahyangan). Yahh gak salah, kalo sehari2 kita ngobrol pake Bahasa leluhur. Kita punya panggilan khusus untuk Anis, yaitu Mami. Aku pun masih mengingat jelas ketika sedang booming lagunya Anang-Syahrini ‘Jangan Memilih Aku’, dia selalu nyetel itu lagu sepanjang malam, ibaratnya lagu pengantar tidur dan dia setting lagu itu dalam keadaan di repeat terus. Sampe kita bosen dengernya. Tapi Mami adalah org yg baik dan lucu. Kalau ketawa punya suara yg khas.
Satu lagi teman baru kita, namanya Emmon. Jadi inget sama Emmon yg ada di Film Catatan Si Boy. Tapi yg ini beda, bukan Emmon yg ke banci-bancian, tapi Emmon seorang wanita tulen asli Kediri. Waktu pertama kali kenal, pas dia datang ke Pare mau survey tempat kursusan dan kosan. Orangnya heboh banget, kalo ngomong selalu pake Bahasa Jawa dan entah lupa atau khilaf, padahal Dita udah bilang kalo ngobrol sama aku jangan pake Bahasa Jawa, karena aku bener2 gak ngerti sama sekali. Tapi, tetep aja Emmon menyamaratakan semua org yg di temui dan ngajak ngobrol pake Bahasa Jawa, dengan logat medoknya. Kalo Emmon udah ngomong pake Bahasa Jawa, yg ada aku mengernyitkan dahi, seolah berpikir keras untuk menangkap dan berusaha memahami apa yg dia ucapkan. Lantas setelah berpikir dengan keras, aku akan bertanya langsung ke Dita ‘artinya apa dit’?? dan keadaan yg seperti ini yg selalu bikin Dita ketawa ngakak. Mungkin waktu itu aku nanya dengan wajah melas penuh harapan dan memohon sama Dita untuk menterjemahkan seluruh kata2 yg Emmon ucapkan. Dengan segala kekurangan yg dia miliki (hahaha…) karena sulit berbahasa Indonesia dngn baik dan benar, Emmon tetap teman terbaik buatku.
Di Brata House, aku tdk hanya mengenal Dita, Anis dan Emmon. Tapi, ada juga Fadyah, Dekna, Teh Nita, Kak Una, Maya, dan msh banyak lagi penghuni lainnya. Hingga berjalannya waktu pada akhirnya kami saling mengenal. Fadyah, kelahiran thn 88, asli org Makassar, tapi perawakannya bukan kayak org yg udah lulus kuliah, tapi kayak anak SMA. Kalo makan paling banyak, tapi gak gemuk-gemuk. Kok bisa yahh!! Di antara Fadyah dan Dekna, Fadyah adalah anak yg manja. Punya kebiasaan megangin ketek dan yg paling sering jd korban kejailan Fadyah, yaitu Dita. Kayaknya Dita udah kenyang di godain sama Fadyah. Fadyah orgnya agak introvert alias tertutup. Program kursus yg di ambil cuman sedikit dan semua programnya ada di Aladin House, penggemar berat Kak Kiddin. Fadyah paling males kalo di ajak keluar, padahal keluar nyari angin doank, jalan-jalan muter Tulungrejo, susahnya kalo di ajak keluar, bilang ‘iya’ aja kayaknya berat. Padahal mksdnya bgs, supaya dia gak bosen di kamar muLu.
Dekna, satu hal yg paling membekas dari Dekna, seorang wanita yg sangat aneh menurut ku. Bukan aneh dengan sifat atau sikapnya. Tapi, aneh sekaligus ajaib dengan kebiasaan dia. Dekna, gak suka makan nasi, kalo di sodorin antara nasi lauk ayam atau daging dan krupuk, dia akan lebih memilih kerupuk. Kalo ketemu kerupuk udah kayak ketemu harta karun yg dah lama terpendam di dasar laut. Bisa yahh, hidup dengan tanpa makan nasi, cuman makan krupuk aja. Ditambah lagi kebiasaan minum soda, Fanta, Coca Cola, Sprite, sampe punya julukan khusus dr Mba Wakapo ‘Ms Cola’. Haduhh…kadang2 aku suka geregetan, sampe2 rasanya pengen cekokin dia makan nasi. Giliran di suapin makan nasi sama sayur, Dekna cuman makan dua sendok makan aja. Aku tau kalau semua itu terjadi karena trauma yg pernah di alami dalam hidupnya. Tapi de’ ni demi kepentingan kamu juga, terutama kesehatan kamu. Krupuk itu gak bergizi. Coba deh makan nasi, ntar badan kamu bisa tambah gemuk dan berisi. Tapi, Dekna adalah org yg sangat perhatian dan baik banget sama semua. Saking baiknya sama org, sampe2 gak jarang kebaikannya itu tdk dibalas dengan kebaikan lagi oleh orang lain.
Kresna English Center & Aladin House
Kursusan pertama yg aku ambil di Pare, yaitu di Kresna, ambil program English Comprehension 1. Sempat shock pas pertama kali belajar di sana, karena materi Grammar yg diajarin di sana ternyata sangat berbeda jauh dengan apa yg pernah aku dapat di LIA atau di LBUI. Di Kresna, materinya lebih detail, kalo aku bilang sangatlah detail. Belajar dari yg namanya pengertian Bahasa, komponen bahasa, Part of speech, Clausa, Phrase, dll. Sampe2 satu hari gak masuk aja, rasanya udah kayak ketinggalan jauh. Pada akhirnya aku bela-belain untuk selalu masuk, walaupun hujan deres, tetap semangat belajar.
Ada satu hal yg sempet bikin aku terheran-heran sekaligus lucu. Kebetulan di kelas EC 1, setiap hari sabtu kita selalu weekly test, setelah itu makan bareng di Jimmy. Waktu lagi ngobrol2 sama teacher dan temen2 yg lain. Dari situ baru aku tau, kalau selama kenal dengan aku, mereka nyangka kalo aku baru lulus SMA. Waktu aku bilang kalo aku udah lulus kuliah, dah gitu lulusnya tahun 2009, mereka pada kaget dan Mr.Kadirah (teacher EC1), senyum-senyum sendiri, karena dia pikir aku baru lulus SMA. Dari situ aku mengambil kesimpulan kalau ternyata muka itu bisa menipu, umur boleh tua tapi muka masih awet muda..hahaha :D.
Sudah terlanjur dari awal ambil kursus di Kresna, akhirnya aku lanjutin ambil program dari HP 3 s.d HP 9. Dari situ akhirnya aku mulai mengenal banyak orang, mulai dari teacher nya ; Mr.Kadirah, Mr.Falaq, Mr.Damanhuri, Mr.Tharom, Mr.Yusro, Mr.Asrof. Juga teman2 sekelas ; Ova, Ahsan, Mas Deden, Rukhi, msh banyak lagi. Aku sendiri merasa takjub aja, ternyata Pare membuka kesempatan untuk berteman dengan banyak org dari berbagai daerah.
Selama kurang lebih 1 setengah bulan aku ambil kursus di Kresna dan rasanya tdk ingin pindah kursus ke tempat lain. Karena pasti kalau aku ambil di tempat lain, metode pembelajaran yg di sampaikan bisa jadi berbeda jauh dengan apa yg sudah aku dapat di Kresna. Niat untuk ambil Grammar di Elfast akhirnya aku batalin. Karena ternyata aku lebih sreg dengan metode pembelajaran yg ada di Kresna.
Setelah belajar di Kresna, akhirnya aku melanjutkan belajar Grammar dan TOEFL di Aladin House, dengan teachernya Kak Kiddin. Ternyata Kak Kiddin adalah sosok guru yg tdk berwibawa. Gak ada wibawanya sama sekali, karena setiap kita ledekin, dia selalu menerima dengan lapang dada. Jadi inget, kita sering dengan seenaknya gak masuk kelas karena males, kalau disuruh hapalan sering nolak. Tapi, Kak Kiddin adalah org yg sangat sabar, sebagai seorang guru, kelebihan dia adalah sabar. Kalo kita belum mengerti dengan materi yg di bahas, dia akan dengan sangat hati-hati menjelaskan kembali.
Selain Kak Kiddin, aku juga kenal baik dengan Mr.Udin. Kenapa aku panggil dia Mr, karena usia dia sama dengan aku, kalau aku panggil kakak, rasanya gak pantas. Mr. Udin ini adik kandungnya Kak Kiddin. Walaupun adik kandung Kak Kiddin, tapi Mr.Udin keliatan beda bgt sama Kak Kiddin. Mr.Udin lbh tinggi, lbh putih dan lbh kurus. Kalo Kak Kiddin specialist Grammar, Mr.Udin specialist Speaking. Satu hal yg suka bikin aku aneh sendiri. Kalo udah masuk kelasnya Mr.Udin, kayaknya lebih sering sesi sharing ketimbang belajar. Sampe2 setiap abis pelajarannya dia, aku lebih sering menghabiskan waktu di Aladin House, ngobrol sm Mr.Udin, ngobrolin banyak hal.
Dari semua tempat kursusan yg sudah aku jamahi. Hanya Kresna dan Aladin House yg paling berkesan. Berkesan bukan hanya dengan ilmu dan materi yg didapat tetapi juga dengan orang2 yg ada di kedua kursusan tersebut.
Kesan Tentang Pare
Minggu, 27 Juni 2010. Aku harus pergi meninggalkan Pare. Aku tdk tahu apakah nantinya kau akan kembali ke tempat ini lagi atau tidak. Hanya ada dua kemungkinan kembali ke tempat ini, pertama aku kembali karena mau mengambil kursus lagi atau aku kembali karena pekerjaan. Tapi aku lebih berharap, kalaupun kembali ke tempat ini, aku kembali karena pekerjaan. Dan satu hal yg pasti, suatu saat nanti aku akan kembali ke Kediri, yaitu saat Emmon menikah. Entah kapan itu waktunya. Tetapi, yg pasti aku akan datang pada saat Emmon menikah.
Untukku, Pare sangatlah berkesan, karena Pare membuka kesempatan bagi ku untuk kenal dengan banyak org dari berbagai daerah. Selain ilmu yg di dapat, di tempat ini aku mendapatkan sahabat, bahkan saudara. Aku merasa amazing dengan apa yg aku dapat di sini. Punya temen dari Makassar, Malang, Kediri, Brebes, Bengkulu, dll. Jujur ini adalah pertama kalinya dalam hidupku bisa mendapatkan banyak teman dr berbagai daerah. Pare juga menjadi tempat yg menjembatani aku untuk mengunjungi Bromo, Yogya, dan Malang (bagian ini akan aku ceritakan secara tepisah).
Setelah aku kembali ke Jakarta, memulai kembali kehidupan yg nyata dan sesungguhnya. Bergelut dengan kemacetan dan kerasnya hidup di Jakarta. Pasti aku akan merindukan saat-saat di Pare. Rindu dengan suasana belajarnya, dengan lingkungannya, mungkin aku akan rindu saat di mana aku jalan2 dengan sepeda ke alun, ke Garuda Park, ke kebon tebu sore2 sambil menikmati sunset (kalo aku bilang sudut trindah di Pare). Rindu dengan makanan di Pare yg gak bervariasi..hehehe. Akan banyak hal yg aku rindukan setelah aku kembali ke Jakarta. Aku tdk bisa berlama-lama di tempat ini. Aku harus move on. Aku harus melanjutkan lagi kehidupanku.
Ini adalah bagian dari lembar kehidupan yg telah aku catat dalam buku harian kehidupanku. Apa yg akan terjadi nanti, hanya satu hal yg aku harapkan, semoga yg terbaik yg bisa aku dapatkan untuk catatan kehidupan ku selanjutnya. Amien…
Febyanti Junaedi
23 Juni 2010
06.00
27 Mei 2010
Pengalaman Sejati
Satu tahun sudah berlalu dengan sempurna meninggalkan kenangan itu. Malam ini aku mengingat bagaimana perjalanan awal itu dimulai. Dengan bersusah payah, dengan penuh perjuangan melawan birokrasi yg cukup sulit, dengan peluh keringat tanpa air mata, aku berjalan menerobos barisan pertahanan yang kokoh itu. Dan doa kalian telah mengiringi langkahku.
Hingga tiba saatnya kita memulai petualangan itu, memulai menemukan pengalaman berharga ibarat pencarian harta karun yg terpendam. Tetap dengan beberapa kesusahan dalam tindakan kita dan kepenatan yg menyertai pikiran kita. Tapi, petualangan itu harus dimulai dengan segera. Agar kita tidak tertinggal oleh waktu. Jangan sampai waktu meninggalkan kita, biar kita saja yg meninggalkan perputaran waktu .
Terpisahlah kita pada waktu yg telah ditentukan. Kalian berjalan menuju sebuah desa bernama Lebak Muncang, kalian yg lain berjalan menuju sebuah desa bernama Nengkelan, sedangkan aku dan mereka berjalan menuju sebuah desa bernama Rawabogo. Iya...kita sedang dalam proses pengabdian kepada masyarakat. Bukan semata melakukan ini karena sebuah nilai formalitas dari kampus. Tetapi, kita bersama di sini mengejar pengalaman-pengalaman berharga itu. Hingga kita bersama kembali dalam satu tempat yg telah ditentukan.
Dan tentu saja kita mendapatkan apa yg kita cari. Belajar banyak dari proses pengabdian yg kita lakukan. Bagaimana kita pada akhirnya tersadar akan penghargaan dan penghormatan kepada teman kita sendiri. Kasih sayang, tolong-menolong, bahkan tidak sering hujat-menghujat mewarnai perjalanan ini. Itu saja bukan sesuatu yg menarik. Ada hal lain yg lebih menarik perhatian kita, menarik pemikiran dan hati kita untuk memahami mereka yang kita temui dan kita kenal, walaupun hanya sesaat.
Melihat kearifan, kebijaksanaan, kesederhanaan, kebersamaan, gotong royong masyarakat desa yg jelas jauh berbeda dengan mereka yg tinggal di kota dan individualis. Sesuatu yg amat sangat langka kita temukan di kota besar seperti Jakarta. Sikap mereka yg menjadi perhatian kita, terutama diriku, memberikan kesan mendalam hingga saat ini. Tidak pernah mendengar keluhan yg terlontar dari bibir mereka, ataupun guratan kekecewaan yg tersirat dari wajahnya jika kesusahan itu datang.
Keakraban yg cepat terjalin antara kami dengan pemuda-pemudi di sana, dengan pelajar Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Aku ingat ketika pertama kali menginjakkan kaki di SD Rawabogo dengan beberapa teman-teman yg lain dan mengenakan jas almamater, tiba-tiba saja beberapa murid SD yg melihat kita langsung mendekat sembari menyodorkan tangannya untuk menciumi tangan kanan kami. Jelas ini pertama kalinya kami mendapatkan perlakuan seperti itu. Sesuatu yg biasa bagi mereka tetapi, berharga bagi kami. Aku ingat kembali, bagaimana senangnya mereka ketika foto-foto bersama di hari terakhir kita mengajar di sekolah tersebut. Dengan penuh keriangan, tawa yg nampak dari bibirnya, hingga wajah yg penuh dengan kegembiraan, mereka begitu lucu. Lebih lucu lagi, ketika mengajar di SMP. Melakukan kejailan dengan korban salah satu teman kita dan dengan akhir yg sangat memuaskan. Membuat kita tidak hanya tertawa lebar tetapi, bersorak dalam hati atas keberhasilan misi yg kita lakukan untuk dia (Bojes).
Kenangan yg begitu indah dan mengharukan. Hingga di akhir petualangan kita, kami pun tak kuasa ketika harus berpisah dan air mata itu pun jatuh juga. Bukan hanya jatuh sekali saja tetapi, kedua kali, ketiga kali, dan seterusnya kami menangis. Aku pribadi tidak bisa bersembunyi menahan bendungan air mata di mata ini, sampai beberapa kali harus menjatuhkan air mata itu. Bukan air mata memang yg aku cari. Tapi, itulah yg aku dapat di akhir petualangan ini. Satu dari sekian banyak pengamalan yg aku dapat, satu dari sekian banyak hal-hal penting yg tanpa sadar telah mengubah diriku.
Walaupun semua itu telah usai namun, kenangan itu akan tetap ada. Kelak jika waktu masih berpihak padaku, aku akan kembali ke tempat yg telah memberikan pelajaran hidup berharga. Pengalaman sejati bagiku. Selamanya, moment ini lah yg akan aku kenang selalu, di antara sekian banyak moment yg aku jalani dalam hidup ini.
Minggu, 19 Juli 2009, 23:52
04 Desember 2008
Jalan ke Braga and Asia Afrika
Waktu itu gw and Angga pergi ke Bandung. Rencana utamanya sih pengen ngambil duit di ATM cuz Nia, Ican, Angga transfer duit ke rekening gw. Ke Bandung kalo cuman ngambil duit aja gw seru. Akhirnya kita mutusin tuk minjem kamera Ipin dan motret di daerah Braga & Asia Afrika. Gw gak tau kenapa suka bgt sama bangunan2 tua yg menurut gw tuh eksotis bgt. Perjalanan dari Ciwidey ke Bdg tuh emang lumayan lama, ada sekitar 2 jam. Nyampe di alun2 Masjid Raya Bandung, kita langsung makan trus mulai deh jalan2. serasa kayak turis asing aja. Jalan2 sambil motret dan selama di sana yg jadi fotografer si BuLuk yg jadi modelnya, siapa lagi selain gw. Sampe gw disuruh gaya di pinggir jalan,,maLu tapi, bodo amat deh. Yg penting hasil fotonya harus bgs!! Kita gak lama di Bdg cuman 2 jam dan itu dipake wat foto2 aja. Trus kita langsung balik deh. Asli yg bikin cape tuh perjalanan ke Ciwidey nya mana macet bgt lagi di Kopo. Tadinya A’Pi2t telphone gw dan gw minta dijemput di rumah sodara. Tapi, ternyata dia gak bisa karena lagi ada di rumah Pk.Camat, katanya sih lagi dijamu makan gitu deh. Alhasil bis solat and makan di rumah teteh gw, kita langsung cabut ke desa. Gila cabut jam 8 malem. Di Jakarta cabut jam segitu mah tenang2 aja. Mana pas baliknya lewat kuburan + hutan bambu Nengkelan, satu ojek bertiga, si Abang di depan, Angga di tengah dan gw di belakang. Asli pas lewat tu daerah, gw pegangan pundaknya Angga sambil nempelin muka and meremim mata gw di punggungnya. Pas sampe posko gw langsung liat2 deh hasil jepretannya si Angga. Ada beberapa foto yg lumayan juga apalagi ada gw yg jadi modelnya.
17 AgusTusan
Kegiatan Agustusan
Gw gak nyangka kalo Agustusan di sini tuh rame bgt. Ini pertama kalinya gw ikutan upacara lagi sejak gw lulus SMA. Agak2 lupa dan pas upacara gw sama temen2 yg lain kebagian jadi tim obade barengan sama temen2 Kartun dan ibu2 PKK. Mana panas bgt lagi selama upacara, gara2 upacara muka gw kebakar gimana gak kebakar dari gladi resik sampe upacara dimulai dari jam 9 sampe jam 10 pagi yg waktu itu matahari lagi panas2nya bersinar. Jadi item deh....Besokkannya pas tgl 18 Agustus 2008, ada acara karnaval 17 Agustusan. Acara ini dihadirin sama Camat dan beberapa pemimpin lainnya. Ada banyak warung2 dadakan di pinggir jalan, trus karnaval di desa ternyata lebih seru daripada karnaval di rumah gw. Tiap RW nampilin kreasinya, unik2 dan keren. Gw sama Angga bagian dokumentasi. Gw megang video dan Angga megang foto, ditambah Tedi yg juga dateng tuk motret. Gw gak nyangka kalo selama acara cuaca bakalan panas bgt. Waktu itu g cuman pake flat shoes dah gitu gak make kaos kaki lagi, alhasil kaki gw kebakar aja gitu!! Selesai acara gw and Fika berburu makanan murah dan enak. Gw makan kupat tahu yg harganya cuman 2500. Trus makan bakso ikan yg harganya cuman 500 perak, ada juga sih yg seribu. Jajanan di sana enak dan murah2 bgt. Bakso ikan yg paling enak, ikannya terasa dan bumbunya pedes mantep. Gorengan aja seribu dapet 3. ada kerupuk ancLom dan seblak yg enak bgt. Selama KKN mah jajan mulu kerjaannya.
Umi "we miSs yOu"
Umi
Umi Utju Khatidjah, beliau Ibu dari Pak.Kades sekaligus pemilik rumah tempat kita tinggal selama KKN. Awal ketemu Umi,,kita rada2 takut juga, takutnya beliau gak ramah atau gak baik sama kita. Tapi, semua itu cuman ketakutan kita aja. Beliau baik bgt, walaupun terkadang kita canggung sama beliau. Sulit merangkai kata2 untuk menunjukkan kebaikan Umi terhadap kita. Yg pasti kita bersyukur dan beruntung bisa bertemu dan kenal dengan beliau. Lebih beruntung lagi kita bisa tinggal di rumah Umi yang kalo dibandingin sama temen2 di desa lain, tempat tinggal kita paling lumayan. Ada kulkasnya, kamar tidur dua dan lumayan gede, ada musholanya, ada dapur yg cukup besar, ada gas, ada kompor minyak, ada rice cooker, ada jamban, dan kamar mandi, ada tempat nyuci yg lumayan. Istilahnya kita tinggal di sini segala fasilitasnya lumayan lengkap. Walaupun ada kekurangannya juga, di rumah Umi tuh serem. Antara rumah dan tempat kita nginep itu dipisah sama pintu. Pas kita ngeliat2 tempat kita nginep selama KKN nanti, gw dah mulai ngerasa aura yg beda bgt. Suasana adem, anyep, dan lembab yg pasti. Dan gw yakin di sana pasti ada penunggunya, terutama di ruang tengah tempat biasa kita ngumpul, di dapur dan di kamar mandi. Tempat2 itu yg paling kerasa bgt. Makannya selama KKN di sana gw bener2 ngejaga makanan gw, gw sempet wanti2 diri gw jangan sampe gw pup malem2 sendirian lagi. Dan kalo dah malem gw selalu minta ditemenin ke kamar mandi. Pernah waktu itu yg laen dah pada tidur, gw masih terjaga dan lagi nulis sesuatu di buku curhat gw. Anjrit...padahal itu masih jam 11 lewat kalo gak salah. Tiba2 ada suara anjing, awalnya suara dia masih jauh tapi, lama-kelamaan semakin mendekat dan tepat di depan rumah Umi. Akhirnya gw langsung tidur aja deh daripada nantinya ngeliat sesuatu. Selama tinggal di sana juga, kalo makan kita bener2 irit bgt. Satu menu untuk satu hari, bayangin aja masak sayur toge untuk makan siang dan malam. Dah gitu kalo pagi makanannya gak jauh2 dari indomie dan nasi goreng, paling enak cuman pas makan sarden yg dibeli sama Fika and udang yg dikasih dari Ka Nunu (cowonya Ink). Kesananya mah makanan kita gak bergizi dan sengsara abis, gara2nya bendahara gw yg astaga peLit bgt. Dia punya prinsip bresakit2 dahulu bersenang2 kemudian. Yah boleh juga sih prinsipnya dia tapi, jgn dipake untuk masalah makanan donk soalnya ini urusan perut. Gara2 KKN gw jadi kena Mag,,awalnya gw gak punya tuh penyakit. Udah makan gak bergizi, telat makan juga. Jadilah tuh penyakit!!
Kartun SacaWaCana
Karang Taruna
Ngomongin kartun bakalan panjang bgt ceritanya. Cuz selama kita di sana kita selalu kerjasama bareng temen2 kartun. Pertama kali ketemu sama anak2 Kartun waktu gw, Angga, Fika, and Yefhy survei hari Sabtu, 2 Agustus 2008. Waktu itu gak semua anak kartun ngumpul yg ada cuman beberapa org aja. Kita bilang ke mereka kalo kita mau KKN di sini dan kalo temen2 Kartun punya kegiatan terutama untuk menyambut 17 Agustusan, kita siap membantu. Yah..kira2 itulah kata2 yg kita ucapain waktu ketemu sama mereka. Bantuan yg kita kasih ke mereka emang gak seberapa, kita gak ngebantu secara materil tapi, kita berusaha membantu dengan tenaga dan kemampuan yg kita punya. Walaupun terkadang kita ngerasa kurang maksimal ngebantu mereka. Dari mulai jadi juri lomba MTQ tingkat Desa Rawabogo, jadi juri lomba Al-Barjanji, bantuin bungkus kado 17 Agustusan, jadi tim obade pas upacara kemerdekaan, ikutan lomba 17 Agustusan, ngeliwet bareng, nonton bareng, dan yg pasti jadi tim dokumentasi segala kegiatan kita dan temen2 Kartun di Desa Rawabogo. Makannya gak heran kalo Video dan foto2 dokumentasi di sana banyak bgt. Dokumentasi yg kita punya bener2 jadi kenangan satu2nya wat kita, kenangan yg akan selalu kita inget dan Insya Allah gak akan kita lupain begitu aja. Yg lebih serunya lagi ada acara CinLok segala lah..sebenernya sih buat gw ini cuman iseng2nya anak2 Kartun aja. Gw gak pernah menganggap itu serius. Mulai dari Dasep yg suka sama Fika, sampe ada A’Pi2t yg selalu dicengin sama gw. Kalo untuk yg satu ini,,bener2 cuman iseng. Lumayan kan buat penambah semangat selama 2 minggu KKN di sana. Dan kedekatan gw sama dia sebenernya azas manfaatnya juga loh,,manfaat untuk bisa tambah deket sama temen2 Kartun lainnya dan biar komunikasi kita sama temen2 Kartun jalan terus. Kata A’Dudi kalo di desa kita kan mesti bersikap baik sama mereka, karena kalo kita bersikap baik pasti mereka juga bakalan baik sama kita. Terbukti kan...!!
Saking kita kangennya sama Rawabogo, sebelum balik ke Jakarta tanggal 30 Agustus. G and temen2 yg lain main lagi ke Rawabogo. Kita nginep di villa nya A’Pi2t, nonton film Tarix Jabrix, makan singkong goreng campur Royco (kebiasaan buruk). Paginya makan nasi goreng di rumahnya A’Pi2t, jalan2 ke kebon teh (Subhanallah viewnya keren abis), sampe pas sorenya kita makan nasi liwet di rumah Teh Dini. Itupun kita sengaja ngeliwet di
Yg pasti perpisahan sama temen2 kartun bikin kita sedih. Sampe kita ngadain acara nonton bareng, walaupun kita sadar pas acara nonton bareng itu kita gak ngasih sesuatu yg maksimal karena ada aja hambatan yg kita temuin. Kita bersyukur bisa ketemu dan kenal dengan mereka. Punya teman baru di sana jadi kalo liburan bisa nginep di salah satu rumah mereka. Kita akan selalu inget kenangan selama di sana..
Masyarakat di Desa Rawabogo
Masyarakat di Desa Rawabogo ternyata baik2 bgt ya. Gw jadi seneng and betah deh tinggal di desa ini. Waktu hari pertama kita KKN, anak2 cewe jalan2 ke daerah Bayongbong di temenin sama Teh Sumi. Pas kita liat daerah sana, ternyata tempatnya seru juga. Selama di jalan kita foto2 aja gitu. Ada foto kita di tengah sawah, waktu itu lagi musim kemarau jadi sawah2 pada kering dan kita bisa sesuka hati jalan di tengah sawah. Ada juga foto beberapa anak2 desa di sana. Setiap kita lewat selalu nyapa org yg lagi nongkrong atau lagi jalan lah. Mereka ramah dan baik bgt. Sampe kita dikasih Sawi putih satu karung, di ajak makan bareng sama mereka. Keakraban, keramahan yg kayak gitu gak akan ada di Jakarta. Yg ada semua individual, cuman mikirin dirinya sendiri. Kalo di sini semuanya saling membantu. Ada warga yg kurang mampu aja sampe dibikinin rumah sama Kepala RW nya. Gw jadi ngerasa takut untuk balik lagi ke Jakarta, yg ada kehidupan gw akan seperti hari-hari biasanya yg selalu gw lewatin. Sesuatu yg terkadang gak suka untuk gw jalanin.
Imtihan
Imtihan
Acara imtihan di desa lumayan paling seru dan menegangkan buat kita. Biasanya kalo di Jakarta, imtihan diadainnya siang hari. Kalo di sana malem2 dari abis Isya sampe jam 11 malem. Sorenya kita sempet ke masjid Al-Ikhlas wat ngehadirin yg namanya Rajaban bareng sama bapak2 and ibu di sana. Setelah selesai, kita diajak makan bareng di rumah salah satu pengurus masjid yg juga sekaligus salah satu staf desa. Gila, kita disuguhin makanannya banyak bgt. Nasi aja sampe satu piring penuh dah kayak ngebentuk Gunung Galunggung. Waktu ngeliat lauknya sih kyknya enak nE. Trus gw ambil deh gulai and sate yg ada di depan gw. Pas gw makan,,God..kenapa gulai dan satenya bau amis gini. Akhirnya gw ngambil kesimpulan, pasti ini bukan daging kambing...jangan2 ini daging Domba?!?Ternyata bener perkiraan gw. Yg gw makan itu daging domba,,alhasil sate yang dah gw ambil gw kasih aja ke Alfan. Duhh...mana kenyang bgt lagi. Sebelum ke masjid kita dah makan dulu. Karena gak abis makanannya, akhirnya gw bilang maaf aja ke bapak2nya kalo gak bisa ngabisin nasinya. Selesai dari acara Rajaban, kita balik lagi ke posko dan sekitar jam 8 malam kita balik lagi ke Masjid untuk hadir di acara imtihan. Gila bgt ni desa,,jam 8 malem aja dah sepi bgt,,kyk gak ada kehidupan. Warung tutup, ojek gak ada, balai desa sepi. Nyampe di sana kita diminta untuk naik ke atas panggung dan perkenalan sama warga di sana. Awalnya kita pengen bgt balik cepet, cuz udara dah mulai dingin. Dinginya parah!!! Tapi, kerena kita janji sama Umi untuk nemenin Fauziah, yh terpaksa kita temenin dia sampe jam 11 malem aja gitu. Jam 11 malem kita balik, padahal itu acara belum selesai. Gila, kita pada gak tahan bgt dinGinnya dah nusuk2 ke tulang. Mana mesti ngelewatin pematang sawah. Ada kejadian yg bikin gw kesel bgt sama Fika. Pas kita dah sampe di jalan besar, Fika langsung lari megang tangan gw. G gak tau kenapa tiba2 dia lari. Tapi, pas di posko dia langsung bilang. Sumpah...Feb ini pertama kalinya gw ngeliat. Ngeliat apa?!?Pasti dia ngeliat hal2 yg aneh deh. Sampe2 ke kamar mandinya gw temenin. G dah bilang sama dia, jangan cerita sekarang, ceritanya besok aja. Dasar cumi!! Dia malah cerita pas sebelum tidur. Dia bilang sih pas jalan di jalan besar, di deket pohom bambu dia ngeliat permen putih (pOcOng) sama di deket pos jaga. Fika...Fika su're bgt sih pake nyeritain itu segala!!Masalahnya ini tu kejadian perSis maLem Jum’at..
Anak SD and SMP
SDN Rawabogo & SMP 3 Ciwidey
Awal KKN
Inilah waktu untuk gw dan teman2 yg lain KKN di Kecamatan Ciwidey, tepatnya di Desa Lebakmuncang, Rawabogo dan Nengkelan. Waktu pertama kali dateng ke Ciwidey, memang agak repot ngurusin massa yg jumlahnya sekitar 14 orang. Itu baru setengahnya, belum 22 orang ngumpul Gak cuman repot pas pertama kali dateng tapi, sampe pelaksanaan KKN nya juga banyak nemuin masalah2. Untungnya ada sedikit kesabaran dalam kita dan berusaha untuk saling mengerti.
Walaupun banyak hal yg bikin repot dan kadang bikin kesel tapi, masih banyak lagi hal yang bikin seneng dan pengalaman indah serta berharga banget yg gw dapet selama KKN. Terutama pengalaman berharga sewaktu tinggal di Desa Rawabogo. Gw emang agak lupa persis tanggal tiap2 kejadian yg kita alami selama KKN di Rawabogo. Yg gw tau, gw akan menceritakan semuanya di sini. Dari awal pertama kali kita dateng sampe akhirnya harus pulang ke Jakarta.
Masih teriinget jelas, ketika pertama kali survei ke Rawabogo. Waktu itu Pak.Kades gk ada di kantor, jadi gw dan Angga cuman bisa nemuin salah satu staf desa. Kita gak hilang akal, akhirnya kita minta nomor telepon Pak.Kades dan langsung kita telpon untuk konfirmasi kalo kita pingin KKN di Desa Rawabogo. Pas nelphone agak deg-degan juga takutnya respon dari beliau gk bagus. Alhamdulillah dari omongannya, beliau respon bgt sama kita bahkan beliau minta ke kita untuk pindah hari itu juga. (Jumat, 1 -08-08)
Hari Sabtunya (2-08-08), kita janji untuk ketemu sama Pak.Kades di kantor beliau. G,w Fikka, Yefhy dan Angga berangkat bareng ke Desa Rawabogo. Pas sampe di sana kita langsung disuruh masuk ke kantor beliau. Gw and temen2 yg lain gak nyangka kalo ternyata orang yg nyuruh kita masuk itu ternyata Kades Rawabogo, kirain salah satu staf desa. Beliau masih muda banget, kalo dibandingin sama orang2 pemerintahan yg pernah gw temuin, beliau termasuk masih muda. Dan pas ngobrol pun enak bgt, bisa langsung akrab. Hari ini kita bener2 survei ke beberapa tempat ke SD dan SMP. Dan gak kalah seru waktu kita ketemu sama temen2 Karang Taruna Rawabogo. Gw ketemu Afgan...he..he..Afgan boong2an. Ceritanya waktu itu kita mau makan mie instant di salah satu warung deket kantor Balai Desa. Eh..tiba2 salah satu di antara kita nyeletuk, ada Afgan. Spontan donk gw langsung liat ke arah di mana temen gw nunjuk secara gw suka bgt sama Afgan. Ada cowo pake kacamata,,,lucu!!Namanya Fitriawan. Asik ni dah dapet inceran selama di Rawabogo. Setelah ketemu sama mereka, gw langsung dapet nomornya dia. Minta nomornya dia juga dengan maksud untuk konfirmasi rapat besok.
(Minggu, 3-08-08). Hari ini kita sepakat untuk berangkat ke desa masing2. kelompok satu ke Lebakmuncang, kelompok dua ke Rawabogo dan kelompok tiga ke Nengkelan. Walaupun pas mau berangkat agak ribet terutama masalah angkot tapi, akhirnya kita berangkat juga. Asli gw pribadi dah pusing sama kelompok umum gw. Sesampainya di Rawabogo, kita langsung masuk ke rumah Ibu Utju (ibunya Kades), kebetulan kemarin kita dah ketemu dan ngobrol langsung sama beliau.
Seinget gw hari Senin ada acara Pembukaan di kantor Kecamatan, sebelum ke Kecamatan kita ngobrol dulu sama pihak SDN Rawabogo untuk minta izin ke Kepala Sekolah dan guru2nya kalo kita mau ngajar di SDN tersebut. Dan hari ini lomba voli di Desa Rawabogo dimulai. Ini sekedar rangkuman kegiatan lomba voli aja ya. Kegiatan lomba voli diadain selama dua minggu dan finalnya berakhir tanggal 17 Agustus 2008. Waktu itu ada kejadian lucu juga, Alfan dan Angga diminta untuk ngebantu tim Karang Taruna ikutan main voli ngelawan tim dari staf desa. Kalo Angga sih gw biasa aja y, secara dia juga sering olahraga tapi, kalo Alfan bener2 jadi berita heboh buat temen2 di desa yang lainnya. Dasar Farel KKN 2008, main voli aja lembut bgt. Dan waktu lomba antar tim Kartun and staf desa, Afgan samaran main jg Loh....he...he...
05 Juli 2008
KARTINI dan PERJUANGAN MENENTANG FEODALISME

KARTINI dan PERJUANGAN MENENTANG FEODALISME
“Apa yang aku kerjakan, tidaklah aku pandang sebagai sesuatu yang harus, tetapi sebagai sesuatu yang kulakukan dengan sukarela untuknya. Aku mengarang, melukis, dan melakukan semuanya, karena Ayah suka akan hal itu. Aku akan bekerja keras dan berusaha sebaik-baiknya, membuat kebajikan karena semua itu menyukakan hatinya. Ayahku begitu cintanya kepadaku! Aku akan sangat lebih bersedih hati lagi, pabila hasrat paling menyala itu terpenuhi, tapi dalam pada itu kehilangan cinta Ayahku”.
Demikianlah kutipan
Terlahir dari seorang ayah bernama Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat dan ibu bernama Ngasirah. R.M.A Sosroningrat adalah anak dari R.M.A Tjondronegoro, Bupati Kudus dan P.A. Hadiningrat, anak dari Bupati Demak. Sedangkan ibunya, Ngasirah hanyalah seorang wanita rakyat jelata, anak dari Mandor pabrik gula Majong, yang mendapatkan kehormatan menjadi istri seorang Bupati, walaupun bukan menjadi istri pertama. Raden Ajeng Kartini memiliki seorang kakak kandung, yaitu Drs. R.M. Sosrokartono serta beberapa orang kakak dan adik dari ibu tirinya, Raden Ayu Sosroningrat.
Kartini kecil pernah menimba ilmu di Sekolah Rendah Belanda. Bersekolah bagi bocah perempuan kecil seperti Kartini adalah sebuah pengkhianatan, sebab pada masanya bocah-bocah perempuan tidak memiliki hak untuk keluar rumah apalagi mengunjungi sekolah. Ayah Kartini adalah salah seorang di antara empat orang Bupati seluruh Jawa yang pernah mendapat pendidikan Eropa. Tidak heran bila pendidikan yang pernah ayah Kartini dapatkan, memberikan Kartini kesempatan untuk belajar di sekolah, walaupun tidak dalam waktu yang lama. Sebab, betapapun majunya R.M.A Ario Sosroningrat, anak-anak perempuannya tetap terikat pada adat istiadat lama.
Bersekolah tidak selamanya memberikan kebahagiaan. Di sekolahnya, Kartini begitu sering mendapatkan diskriminasi. Hal ini terlihat manakala anak-anak dibariskan dan dipanggil seorang demi seorang menurut kulitnya, putih, setengah putih, lalu coklat. Juga kedudukan orangtuanya dalam susunan kepegawaian dan susunan sosial. Namun, tahun demi tahun, diskriminasi yang Ia alami tidak pernah menyurutkan semangat dan tekadnya untuk tetap sekolah dan belajar.
Dan masa itu telah tiba, masa di mana adat istiadat kembali berbicara. Sebagai seorang perempuan yang hidup di zaman feodal, zaman yang mengharuskan seorang perempuan hidup dalam kekangan adat dan istiadat yang begitu lekat di negaranya saat itu.
Di usia dua belas tahun, Kartini harus meninggalkan sekolah. Meninggalkan teman-teman, guru-guru, dan sekolah yang begitu Ia cintai. Melalui masa kecil yang dahulu manis memasuki masa yang kelam dan gelap. Pulang kembali ke rumah, menjalani hidup di dalam ruangan sempit yang terasa hampa dengan empat tembok tebal mengelilinginya. Tiada komunikasi dengan dunia luar, hanya menunggu datangnya seorang pria pilihan orang tuanya, yang tidak Ia kenal dan akan menikahinya kelak.
Betapapun besarnya hasrat Kartini untuk belajar, merengek kepada ayahnya agar Ia diizinkan untuk pergi ke
Tiada tempat pelarian, tiada yang dapat menghibur kecuali “buku” teman-temannya yang bisu dan pendiam, yang menemaninya setiap hari. Kartini suka membaca, tapi kesukaannya itu telah menjadi candu.
Di tahun 1896, Ia mendapatkan kembali kebebasannya setelah empat tahun hidup dalam kurungan. Melihat kembali dunia luar serta menjalani upacara pembebasan bersama adik-adiknya. Tapi, pembebasan itu belumlah bersifat resmi, mereka masih ditahan di rumah, lambat laun mereka sering bepergian dan hadir pada perayaan penobatan Ratu Wilhelmia tahun 1900. Akhirnya, Kartini dan saudara perempuannya kembali memperoleh kebebasan yang sesungguhnya.
Kartini adalah seorang perempuan yang memiliki kepedulian kepada rakyatnya. Ia begitu ingin mengulurkan tangannya kepada mereka yang ada dalam derita kemelaratan. Namun, kedudukannya yang tinggi dalam sistem feodal tidak mengizinkannya untuk bergaul dengan rakyat yang dianggap hina. Kehidupan Kartini yang juga menderita tidak mengikis pemikirannya akan penderitaan orang lain.
Hidup Kartini terkurung oleh sistem feodal dengan pengaruh dari Hinduisme, adanya pembagian kasta. Di mana ayah Kartini menduduki kasta Ksatria bersama dengan keluarganya. Kartini menaruh simpati yang besar kepada rakyatnya. Semua ini disebabkan oleh buku yang pernah Ia baca. Kebanyakan dari buku tersebut adalah buku-buku, majalah, dan Koran Barat. Pengetahuan dari dunia Barat bersifat demokratik artinya dapat dimiliki oleh siapa saja tanpa memandang tinggi rendah kedudukannya dalam masyarakat. Perkenalan Kartini dengan rakyat, sebagian besar didapat dari bacaan Multatuli, serta dari diskusinya dengan ayah dan pamannya.
Bagi Kartini, keadaan dunia Barat lebih baik daripada tata kehidupan Pribumi. Dalam hal ini, tata hidup Pribumi masih sangat terbelakang. Tata hidup Pribumi hanya mengenal atasan dan bawahan. Di dalam tata kehidupan feodalisme Pribumi Jawa, kehormatan manusia terletak dari kebangsawanannya, tidak peduli itu bodoh atau tidak, beradab atau tidak, kejam atau tidak. Nilai manusia tidak terletak pada kemampuan, kebiasaan, dan jasanya kepada masyarakat.
Kartini sendiri berpendapat bahwa poligami itu bukan berasal dari agama Islam, melainkan dari tata hidup feodalisme. Dahulu, seorang wanita tidak dapat menolak perintah bangsawan untuk menjadi istrinya yang ke sekian. Sejak saat itu, Kartini melawan dan memerangi tata hidup feodal.
Feodalisme sendiri merupakan tata hidup yang memecah-belah masyarakat dalam lapisan dan susunan hamba-hambanya. Selanjutya, tanggung jawab sosial yang ada hanya berasal dari bawah kepada feodal, sebaliknya kaum feodal tidak bertanggung jawab kepada bawahannya.
Kecintaan Kartini kepada rakyatnya, dibuktikan dengan kecintaannya pada seni rakyat. Kecintaan pada seni rakyat berarti kecintaan watak dan sifat rakyat. Kartini menyimpulkan bahwa pendidikan tanpa seni rakyat, berarti juga pendidikan tanpa pembentukan watak. Mendidik rakyat adalah juga mengembalikan seni rakyat itu kembali kepada rakyat dalam bentuk yang sudah diperbaiki yang tidak lain adalah perbaikan atas kekurangan pada watak dan sifat rakyatnya.
Selain memiliki kepedulian kepada rakyatnya, Kartini juga peduli akan perkembangan pendidikan bagi rakyatnya. Ia begitu bahagia ketika ada sejumlah wanita di Priangan yang mampu berbicara bahasa Belanda. Kartini juga mampu berbicara dalam bahasa Belanda. Bahasa ini pada akhirnya menjadi alat perjuangan bagi Kartini untuk melakukan kritik dan penolakan terhadap tingkah laku orang-orang Belanda dan dapat menyampaikan keinginan rakyatnya ke percaturan politik.
Bung Karno pernah menuturkan bahwa Kartini adalah orang pertama dalam sejarah bangsa
Report from Bandung & Ciwidey
Semua yg gw hadapi benar2 jauh dari harapan. Sebenernya gk cuman pas di bandung aja sh. Tapi, dah dimulai dari semenjak temen gw ngurusin surat di DepDagri.
Sampe gw mesti ngebatalin tiket KA gara2 surat izin dari Depdagri yg lama beUUt....
Akhirnya gw ke Bandung brng sama adek gw. Yah...tau sndiri dy mah orgnya maLes,,apa2 mesti ngandelin gw. Yang lain jg bGitu..
Padahal gw kan pingin semua jg bisa mendapatkan pengalaman. Ya...tidak harus sama,,tapi setidaknya mereka merasakan lah,,gak cuman mikirin enaknya aja.
Sampe2 hampir aja kehabisan duit di sana,,lantaran ongkos bolak-balik yg lumayan gede. Mana nyari ATM di Ciwidey susah bEuuut. Untung ada Teteh yang baik hati.
Alhamdullillah 2 tujuan ke Bandung selesai jg,,skrg tinggal matengin program kerja wat KKN. Mudah2n pada saat pelaksanaannya semua lancar,,kalo pun ada hambatan,setidaknya hambatan yg masih dapat kita atasi. Walaupun yg namanya pengorbanan itu pasti ada!!
Emang dasar ya perempuan,,,sekali mendayung,,,,dua tiga pulau terlampaui. Ngurusin perizinan KKN di Bandung,,skalian nyambil jalan2, belanja and makan. Lumayan dah sdikit2 tau Bandung.
Ada satu yg beLum sempet gw kerjain di sana,,yaitu jalan2 di sepanjang jalan Asia Afrika, Braga,, asLi dh gw kaLo ngeliat bangunan Tua gitu,,bawaannya penGen foto2. Kerja sambil Traveling tuh ternyata sangat menyenangkan..............
Tar pas KKN gw mo ngajak anak2 maen ke daerah sna ahhh....
01 Juli 2008
maLes mLuLu nE
Kasian juga blog ini. Di postingnya kadang2 aja...
01 Maret 2008
Global Warming and Climate Change
Pemanasan Global
Apa sih sebenarnya pemanasan global itu?
Pemanasan global adalah kejadian meningkatnya temperatur rata-rata atmosfer, laut dan daratan bumi. Pada saat ini bumi menghadapi pemanasan yang cepat, yang menurut anggapan para ilmuan disebabkan oleh aktifitas manusia. Penyebab utama pemanasan ini adalah pembakaran bahan bakar fosil seperti batu bara, minyak bumi, dan gas alam, yang melepas karbondioksida (Co2) dan gas-gas lainnya yang dikenal sebagai gas rumah kaca (greenhouse gas) ke atmosfer. Rata-rata temperatur permukaan bumi sekitar 15°C (59°F). Selama seratus tahun terakhir, rata-rata temperatur ini telah meningkat sebesar 0,6 derajat Celsius (1 derajat Fahrenheit). Para ilmuan memperkirakan pemanasan lebih jauh hingga 1,4-5,8 derajat Celsius (2,5-10,4 derajat Fahrenheit) pada tahun 2100. Kenaikan temperatur ini akan mengakibatkan mencairnya es di kutub dan menghangatkan lautan, yang mengakibatkan meningkatnya volume lautan serta menaikkan permukaannya sekitar 9-100 cm (4-40 inchi), menimbulkan banjir di daerah pantai, bahkan dapat menenggelamkan pulau-pulau
Bagaimana Pemanasan Global Bisa Terjadi
Energi yang menerangi bumi datang dari Matahari. Sebagian besar energi yang membanjiri planet kita ini adalah radiasi gelombang pendek, termasuk cahaya tampak. Ketika energi ini mengenai permukaan bumi, ia berubah dari cahaya menjadi panas dan menghangatkan bumi. Permukaan bumi akan memantulkan kembali sebagian dari panas ini sebagai radiasi infra merah gelombang panjang ke angkasa luar, walaupun sebagian tetap terperangkap di atmosfer bumi. Gas-gas tertentu di atmosfer termasuk uap air, karbondioksida, dan metana, menjadi perangkap radiasi ini. Gas-gas ini menyerap dan memantulkan kembali radiasi gelombang yang dipancarkan bumi dan akibatnya panas tersebut akan tersimpan di permukaan bumi. Gas-gas tersebut berfungsi sebagaimana kaca dalam rumah kaca sehingga gas-gas ini dikenal sebagai gas rumah kaca. Dengan semakin meningkatnya konsentrasi gas-gas ini di atmosfer, semakin banyak panas yang terperangkap di bawahnya.
Penyebab Pemanasan Global dan Perubahan Iklim
· Penebangan dan Pembakaran Hutan
Tentu kita sudah sering melihat berita di televisi tentang penebangan hutan secara liar yang terjadi di hutan-hutan Indonesia. Semakin hari, semakin banyak saja orang yang melakukan penebangan hutan, baik itu perusahaan-perusahaan besar yang ingin mencari keuntungan semata dengan mengorbankan aset terpenting dari bumi ini, ataupun masyarakat setempat yang masih mengandalkan penebangan hutan untuk membuka ladang pertanian. Di sepanjang sungai besar di Kalimantan, Sumatera, Irian Jaya, ditemukan batang-batang pohon yang berserakan tanpa tahu siapa pemiliknya. Sebuah fakta mengejutkan mengatakan bahwa Indonesia adalah negara dengan tingkat kehancuran hutan tercepat di dunia, di mana 1,8 juta hektar lahan hutan di Indonesia hancur karena penebangan liar. Dan rekor ini tercatat di Guiness Book of World. Sungguh ironis memang, apalagi kita tentu tahu dampak negatif yang akan terjadi dengan berkurangnya jutaan hektar lahan tersebut. Dengan berkurangnya jutaan hektar hutan di Indonesia, berarti bisa meningkatkan berbagai bencana seperti banjir, tanah longsor, erosi, dan badai. Dan hutan tidak akan lagi berfungsi sebagai paru-paru dunia karena, semakin berkurangnya pasokan oksigen yang dihasilkan oleh hutan. Selain itu penebangan hutan akan memusnahkan habitat asli satwa liar. Juga akan menyebabkan kekeringan panjang selama musim kemarau. Yang paling penting, hutan juga menyerap emisi gas rumah kaca (karbondioksida) sehingga tidak langsung menyebar ke atmosfer. Mengurangi luas hutan, sama saja dengan memperparah pemanasana global dan perubahan iklim.
· Limbah Pabrik, Sampah, dan Asap Kendaraan Bermotor
Banyak pabrik yang didirikan di kota besar seperti Jakarta sebagai salah satu usaha meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Tetapi, banyak juga dari mereka yang terkadang membuang limbah hasil olahan industri secara sembarangan. Seperti pembuangan limbah pabrik ke sungai-sungai hingga menyebabkan air sungai menjadi hitam, bau, dan tercemar oleh zat kimia berbahaya. Membuang sampah tidak pada tempatnya dan membiarkan sampah plastik berserakan di atas tanah, dapat menyebabkan pencemaran tanah. Karena sampah yang tidak dapat didaur ulang akan menghasilkan gas metan, salah satu gas yang memicu terjadinya pemanasan global. Ditambah lagi jumlah kendaraan bermotor seperti sepeda motor atau mobil, yang semakin hari semakin bertambah jumlahnya. Dan ternyata banyaknya kendaraan bermotor, justru akan memperparah pemanasan global. Coba bayangkan berapa banyak karbondioksida yang dihasilkan dari asap kendaraan bermotor setiap harinya.
Efek Langsung Pemanasan Global dan Perubahan Iklim
- Penelitian terakhir para ahli klimatologi di Amerika Serikat berhasil membuktikan bahwa pemanasan global terjadi karena Bumi menyerap lebih banyak energi Matahari daripada yang dilepas kembali ke ruang angkasa.
- Pemanasan global telah mencairkan es di Antartika lebih cepat dari perkiraan, diduga 13.000 kilometer persegi laut es di Semenanjung Antartika telah hilang dalam kurun waktu 50 tahun terakhir.
- Mencairnya es di Semenanjung Antartika menyebabkan terjadinya kenaikan permukaan laut di seluruh dunia kurang lebih 15% atau sekitar 2 mm setiap tahun.
- Jakarta adalah salah satu dari 180 kota di dunia yang 70% wilayahnya berada di kawasan pantai berelevasi rendah dan terancam oleh naiknya permukaan laut akibat pemanasan global. Diperkirakan 72 hektar lahan di Jakarta tenggelam tahun 2030. Dan semakin bertambah menjadi 160 hektar pada tahun 2050.
- Kawasan pantai akan terkena dampak paling buruk dari pemanasan global, pada 2080 lebih dari 100 juta manusia akan terkena banjir setiap tahun. Bahkan pada 2090 mereka meramalkan terjadinya air bah raksasa di Amerika Utara.
- Asia adalah kawasan paling berbahaya yang akan terkena dampak pemanasan global. Lima negara yang terancam adalah Cina, India, Bangladesh, Vietnam, dan Indonesia.
- Diperkirakan es abadi akan mencair sepenuhnya dalam kurun waktu 40 tahun.
- Ditemukannya “Imja Glacial Lake” atau danau yang terbentuk akibat lelehan gletser di Nepal. Tahun 1955 danau ini tidak ditemukan, tapi tahun 2002 danau ini ada. Dengan luas 2000 x 500m dan kedalaman 100m.
- Jika pengrusakan hutan tidak dikurangi atau dihentikan, pada tahun 2030 akan terjadi perubahan iklim global dengan suhu bumi naik 1 derajat Celcius.
- Jika suatu ketika lapisan es di bumi mencair maka ketinggian permukaan air laut dapat dipastikan naik hingga 64 meter.
Pengendalian Pemanasan Global
Banyak cara yang bisa kita lakukan untuk mengendalikan pemanasan global antara lain dengan mengurangi karbondioksida di udara. Caranya mudah kok!! Dengan menanam pohon lebih banyak lagi dan memelihara pepohonan yang sudah ada. Pohon, terutama yang muda dan cepat pertumbuhannya dapat menyerap karbondioksida yang sangat banyak. Selain itu ada juga cara lain yang lebih mudah untuk kita lakukan, antara lain : membuang sampah pada tempatnya, membatasi penggunaan kertas, menggunakan baterei isi ulang karena lebih hemat energi, mematikan lampu ketika tidak ada orang di rumah, jangan terlalu sering menggunakan AC (Air Conditioner) dan pengering pakaian yang ada di mesin cuci, gunakan sepeda atau berjalan kaki kalau kita mau pergi ketempat yang jaraknya tidak jauh dari rumah. Kita juga bisa ikutan gabung dengan organisasi lingkungan hidup seperti Greenpeace, Walhi, atau WWF.
Dan hal terakhir yang harus kita lakukan ialah menjaga lingkungan di sekitar kita agar tetap bersih, sehat, dan jangan sekali-kali berpikir untuk merusak alam yang telah Allah SWT ciptakan bagi kelangsungan hidup manusia di dunia. Allah SWT pernah berfirman “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah (Allah) memperbaikinya, dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik”. (Q.S. Al-A’raf : 56). Jadi, mulai dari saat ini berusahalah untuk peduli dan cinta terhadap lingkungan, terhadap bumi kita, tempat di mana kita lahir, hidup, dan menutup usia kelak.
Belajar dari Film dan Sinema Korea dalam Meraup Devisa Negara
Kalau dulu masyarakat Indonesia sempat mengenal serial Meteor Garden yang sangat fenomenal hingga mengangkat nama grup vocal F4 terkenal dan memilki banyak penggemar di Asia. Lain halnya pada akhir tahun 2005, salah satu stasiun televisi swasta Indonesia yang juga pernah menayangkan serial Meteor Garden, menayangkan sebuah serial Korea produksi MBC (Munhwa Broadcasting Company) berjudul Jewel in The Palace (Dae Jang Geum).
Serial ini mendapat sambutan baik dari penonton Indonesia. Kesuksesaan serial ini tidak hanya terjadi di Indonesia tetapi, juga di negara asal tempat serial ini diproduksi. Serial yang bercerita tentang sosok Seo Jang Geum, tabib perempuan pertama di Korea. Dia meniti karier sebagai seorang dayang istana hingga mendapat gelar bangsawan dae (yang mulia). Jang Geum, diperankan oleh Lee Young-ae (Sympathy for Lady Vengeance, Last Present), menjadi figur perempuan yang mampu mendobrak dominasi pria yang kaku di masanya. Berlatar belakang masa kerajaan Jungjong (1506-1544), raja ke-11 dari Dinasti Chosun, serial ini kaya dengan detail dan riset. Serial ini juga menyuguhkan pusaka kuliner Korea pada masa itu. Jang Geum dikisahkan pintar menyuguhkan makanan sebagai obat untuk kerabat raja. Kombinasi gender, racikan makanan, dan obat tradisional Korea, serta intrik persengkokolan istana membuat serial ini meraup sukses.
Di Korea Selatan, serial ini mampu meraup tingkat penonton hingga 57,8 persen. Jewel in The Palace juga meraup sukses dan disukai di sejumlah negara seperti Hongkong, Taiwan, Amerika Serikat, Kanada, dll. Bahkan pada Majalah Time edisi 14 November 2005 menulis, Presiden Cina Hu Jintao juga menggemari serial ini.
Di Indonesia, sudah banyak stasiun televisi yang menayangkan serial Asia seperti Korea, Jepang, dan Taiwan. Tetapi, hanya stasiun televisi Indosiar saja yang konsisten menayangkan serial-serial Asia sampai dengan saat ini.
Mewabahnya Korean wave, bertambahnya penggemar serial Korea terutama remaja, wanita karier, dan ibu rumah tangga. Ternyata dimanfaatkan oleh beberapa rumah produksi di Indonesia untuk membuat atau lebih tepatnya meniru beberapa serial Korea yang kemudian oleh mereka dibuat dalam versi sinetronnya. Sungguh ironis memang, ketika satu rumah produksi menayangkan serial jiplakan versi Indonesianya, justru ratingnya sangat tinggi jika dibandingakn dengan acara lain. Tingginya rating inilah yang pada akhirnya membuat beberapa rumah produksi berlomba-lomba membuat sinetron hasil tiruan dari serial Korea, Jepang, dan Taiwan. Sebut saja rumah produksi yang menayangkan sinetron berjudul “Pengantin Remaja”, ternyata aslinya adalah serial Korea dengan judul “My Little Bride”. Benci Bilang Cinta (Princess Hours-Korea), Buku Harian Nayla (1 Litre of Tears-Jepang), dan masih banyak lagi. Oleh karena itu tidak heran bila ada dua judul sinetron dari rumah produksi yang berbeda, memilki kesamaan alur cerita. Hal ini bisa terjadi karena memang mereka meniru cerita dari serial Asia yang sama.
Melihat kondisi perkembangan sinema di Korea, sangat jauh berbeda dengan perkembangan sinetron di Indonesia. Di Korea, sinema menjadi salah satu komoditi ekspor yang paling banyak mendatangkan keutungan. Sepanjang Sembilan bulan pertama 2005, Korea meraup US$ 67 juta (sekitar Rp. 656 miliar) dari ekspor sinema itu. Pasar Asia menyumbangkan 80,3 persen, Eropa 15,5 persen, dan Amerika Utara 3,3 persen. Pendapatan ekspor ini meningkat dari tahun 2004, sekitar US$ 58,28 juta (sekitar Rp. 571 miliar). Pasar Asia menyumbangkan 77,80 persen, Eropa 14,1 persen, dan Amerika Utara 5 persen. Geliat sinema Korea ini mengancam industri hiburan Jepang. Beberapa pengusaha Jepang merasa gerah karena industri filmnya digerogoti film dari bekas Negara jajahannya itu.
Sebenarnya apa yang membuat serial Korea begitu digemari?. Ada alasan khusus mengapa serial Korea begitu digemari. Tidak seperti sinetron Indonesia, keunggulan serial Korea terletak pada alur cerita yang sangat kuat. Mereka mampu menyajikan cerita dengan tema yang tidak melulu soal cinta tetapi juga mengenai persahabatan, kebudayaan dan keluarga. Mereka sangat detail sekali dalam memproduksi sebuah serial drama, mulai dari hal yang terkecil pun selalu mereka perhatikan. Artinya mereka tidak sembarangan dan tidak asal-asalan dalam memproduksinya. Kebanyakan sinetron Indonesa memproduksi sinetron yang kejar tayang, dengan system syuting stripping. Ironisnya lagi kalau ternyata seinetron tersebut tidak mampu menembus rating yang diinginkan, jangan kaget jika tiba-tiba saja sinetron tersebut berhenti penayangannya. Kecenderungan yang biasa dilakukan oleh rumah produksi adalah membuat sinetron yang sedang nge-trend.
Sebelum bermunculan sinetron yang mengadaptasi serial Asia, penonton disuguhkan dengan sinetron bertema religi. Sebagai pelopor adalah “Rahasia Illahi”, karena kesuksesaan sinetron tersebut akhirnya banyak rumah produksi yang berlomba-lomba membuat sinetron dengan tema yang sama. Dari sini terlihat jelas bahwa mereka lebih mementingkan keuntungan semata daripada menyajikan suatu tayangan yang berbobot dan memiliki nilai estetika serta tidak menyudutkan pihak tertentu.
Penjiplakan yang terus menerus terjadi, akan mengakibatkan terkikisnya kreatifitas individu dalam menghasilkan sebuah karya. Kita tentu tidak ingin dicap sebagai negara Plagiator. Mau dibawa kemana masa depan bangsa ini kalau dari sinetron atau filmnya saja bukan hasil karya sendiri (tidak orisinil) dan tidak dapat mencerminkan nilai-nilai kebaikan. Seharusnya kita bisa belajar dari tayangan sinema di Negara Gingseng, bukan meniru sinema mereka tetapi meniru cara mereka yang berhasil mengembangkan industri sinema hingga terkenal di mancanegara, mendapatkan banyak penghargaan, serta apresiasi yang luar biasa dari kalangan internasional. Bahkan artis-artisnya pun mampu bersaing dan berkolaborasi dengan artis-artis Eropa dan Amerika. Lewat sinema, Korea berhasil memperkenalkan kepada dunia luar kebudayaan mereka mulai dari kuliner, bahasa, pakaian, adat istiadat, dll. Yang pada akhirnya dapat membantu meningkatkan industri pariwisata dan meningkatkan devisa negara mereka.
Kalau saja para pekerja industri sinema dan film kita menyadari akan hal itu, mereka tidak mementingkan segi komersialnya saja. Masyarakat para penikmat sinema dan film harusnya dapat selalu berpikir kritis dan dapat memilih mana tayangan yang bukan hanya sekedar menghibur, tetapi juga memilki nilai etika dan estetika, serta orisinil. Dan pemerintah dalam hal ini, seharusnya berperan membantu dalam segi finansial, yaitu memberikan modal kepada pembuat sinema atau film untuk menciptakan karya mereka. Dan juga membantu dalam hal penyebarluasannya baik itu melalui ajang festival sinema dan film, maupun dalam ajang pengenalan budaya Indonesia kepada mancanegara. Dengan dukungan dari berbagai pihak, bisa dipastikan Indonesia dapat meraup keuntungan besar dari industri sinema. Seperti yang terjadi di Korea dan di Amerika (Hollywood) sana.